Pekik (belum) Merdeka Guru Honorer : "Jasamu terkenang, peluhmu tak terbayar"
Pekik (belum) Merdeka Guru Honorer : “Jasamu terkenang, peluhmu tak terbayar”
Karya : Siti Nurhayati, S.S.,M.A.
Menurut KBBI, merdeka ialah bebas, lepas dari tuntutan, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Faktanya? Tak sedikit guru honorer yang sangat bergantung pada petinggi sekolah yang dianggap memiliki wewenang atas “masa depan” mereka. Indonesia yang kini terbagi atas 34 provinsi memiliki kurang lebih 2.977.379 total guru yang mengabdikan dirinya demi mencerdaskan anak bangsa, dan tidak dapat dipungkiri 1/3 dari total diatas diisi oleh guru honorer, pejuang NIP yang mengabdi pada sekolah-sekolah negeri yang tersebar diseluruh Indonesia dan terbagi atas beberapa jenjang. Guru honorer bukan sekedar pekerjaan, lebih dari itu. Ada banyak generasi yang terselamatkan oleh mereka, jarak yang kadang tidak pandang bulu siapapun yang melaluinya, waktu yang terkuras demi menyelesaikan beragam administrasi sekolah yang tak kunjung hentinya bahkan tak jarang berubah-ubah menyesuaikan musim pejabat yang memimpinnya.
Pernahkah tebersit dalam benak kita, ada berapa banyak generasi yang terselamatkan oleh para pejuang pendidikan yang sering kita sebut guru honorer? Bahkan upah yang dianggap banyak oleh mereka sesungguhnya tak mampu untuk membayar apa yang telah mereka lakukan, apa yang telah mereka perjuangkan.
Tahun demi tahun, silih berganti peraturan demi peraturan yang harus kita lalui, namun, apakah pernah ada solusi untuk setiap elegi? Pejuang pendidik yang tak ingat petang menyambang tak pernah pupus harapan demi menyongsong harapan demi harapan yang tak kunjung datang. Rumor ini dan itu sudah menjadi bagian dari mereka, segala janji janji manis yang mereka telan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan bahkan menjelang akhir jabatan nyatanya tak pernah kunjung tiba. Malah kini berganti dengan peraturan yang menyulitkan mereka untuk mencapai apa yang mereka idam-idamkan. Kalau dulu, semua orang dirasa sangat gampang menjadi PNS hanya dengan menjadi guru honorer bertahun-tahun, karena pasti akan diangkat oleh pemerintah menjadi PNS. Lalu bagaimana kini? Semakin banyak tuntutan Negara akan hadirnya sumber daya manusia yang mumpuni mengikis para pejuang pendidikan yang sudah puluhan tahun mengabdi terpaksa harus “tersingkir” oleh kerasnya sistem. Mereka yang sudah tua, bahkan untuk melakukan aktivitas semasa muda pun sudah tak mampu, harus rela mengalah dengan mereka yang masih belia, penuh gairah dan tak patah asa.
Namun, apakah itu semua dirasa adil? Apakah itu yang dinamakan sebuah solusi? Ratusan bahkan ribuan guru honorer yang tak lagi muda harus rela mengalah tanpa berjuang dengan mereka yang masih kita sebut muda. Ya. “yang muda yang berkarya” kata –kata itu seolah menjadi “tameng” kejamnya sistem yang perlahan mengikis hati nurani serta membuat kita lupa akan jasa-jasa para pahlawan yang tak akan pernah kita sanggup tuk membalas jasanya.
Lagi lagi, ratusan bahkan ribuan guru honorer harus menelan pahit keadilan. Sebuah peraturan yang justru merugikan kini berbondong-bondong diperjuangkan. Akankah keadilan benar akan menghilang? Oh… guru honorer yang malang, peluhmu belum terbayar, kini harus menelan pahit kehidupan. Lantas, siapa yang harus disalahkan?
Jawabannya tetaplah tidak terjawab, belum tuntas kesejahteraan yang merata, kini kita dihapkan oleh banyaknya realita yang menggunjang jiwa. Belum selesai gaji yang selalu membuat menunggu, nominal sangat jauh dengan kenyataan, kebutuhan. Administrasi yang tak kunjung henti, pun silih berganti. Kini kenyataan lain harus dihadapi bahwa tak semua guru honorer memiliki kesempatan pasti untuk menikmati hasil jerih payah keringat sendiri yang dibangun sejak lama, karena mau tak mau harus bersaing dengan guru honorer lainnya dengan mengikuti seleksi PPPK Guru.
Pemerintah tak pernah salah menginginkan guru terbaik untuk generasi terbaik, pemerintah tak pernah keliru dalam membuat banyak peraturan baru hanya saja perlu evaluasi lebih menyeluruh agar impian itu tercapai tanpa pandang bulu.
Pernahkah suatu ketika kita bertanya pada diri sendiri, sebenarnya apa yang dicari dari sebuah pekerjaan sebagai guru honorer yang bahkan menunggu gaji tiba tak ayal membuat kita sering bersusah payah berhutang demi menyambung hidup. Pernahkah suatu ketika kita bertanya pada diri sendiri apa yang dicari dari sebuah pekerjaan guru honorer yang sering dianggap sebelah mata bahkan sering tak terlihat.
Dan pernahkah kita bertanya pada diri sendiri sebenarnya apa yang kita pertahankan dari sebuah pekerjaan guru honorer yang tak jarang nyawa pun jadi ancaman, melintas berbagai medan yang terjal demi sampai ke sekolah tujuan untuk bertemu para generasi bangsa. Atau pernahkah kak kita bertanya pada diri kita sendiri, apalagi hal yang kita ingin raih didunia ini dari sekedar menjadi guru honorer yang segala urusan administrasi dipersulit, hidup terasa semakin sempit. Segala pertanyaan itu seolah datang silih berganti setiap hari menghiasi mimpi-mimpi, namun, faktanya hingga kini masih banyak dan akan terus bertambah para pejuang pendidik yang lebih muda yang rela menghabiskan sisa umurnya demi mengabdi pada Negara, meski sering dianggap tidak ada. Kami guru honorer tidak akan pernah gentar memperjuangkan apa yang telah kami upayakan. Kami guru honorer akan selalu menjadi yang terbaik demi Indonesia yang lebih baik lagi.